ProKajadi Angkatan XII SMAIT Ash Showah Berau Jadi Ruang Membentuk Karakter Siswa dan Menjaga Jati Diri di Tengah Arus Zaman
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Lampu panggung menyala, musik mulai terdengar, satu per satu siswa kelas X SMAIT Ash Showah Kabupaten Berau tampil di hadapan para tamu dan orang tua yang memenuhi lokasi acara pentas seni ProKajadi Angkatan XII SMAIT Ash Showah, Kabupaten Berau.
Apa yang tersaji dipanggung
ini mungkin terlihat sebagai sebuah pagelaran seni biasa. Namun, bagi para
siswa, panggung tersebut menjadi lebih dari sekadar tempat menampilkan karya seni
dan kreativitas, tapi sebuah proses panjang tentang bagaimana seorang anak
belajar mengenal dirinya, melawan rasa takut, membangun kepercayaan diri,
bekerja sama, serta perlahan menemukan jati dirinya.
Pesan itulah yang
menjadi roh dalam Pagelaran Karya Program Pembentukan Karakter dan Jati Diri
(ProKajadi) SMAIT Ash Showah Kabupaten Berau, yang digelar di Story Mount Cafe,
Sabtu malam (8/8/2026).
Mengusung tema
“Indonesia Merdeka, Berau Berdaya, Alam Terjaga”, dengan subtema “The Art of
Becoming : Seni Membentuk Diri di Tengah Arus Zaman Tanpa Kehilangan Jati Diri
Muslim”.
Pagelaran tersebut
sekaligus menjadi bagian dari rangkaian menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan
Republik Indonesia. Sejumlah unsur pendidikan turut hadir dalam kegiatan
tersebut, di antaranya Ketua YPDSI Ash Showah, Pengawas Tingkat SMA Provinsi
Kalimantan Timur, serta kepala sekolah dari jenjang KBIT, TKIT, dan SDIT.
Kepala SMAIT Ash
Showah, Ririn Astriani, mengatakan penampilan para siswa harus dilihat lebih
jauh daripada sekadar pertunjukan beberapa menit di atas panggung. Menurutnya,
setiap penampilan merupakan gambaran dari proses pembentukan karakter yang
sedang dijalani para siswa sejak mereka masuk ke lingkungan SMAIT Ash Showah.
“Yang kita saksikan
malam ini bukan sekadar pertunjukan. Kita sedang menyaksikan keberanian yang
sedang tumbuh, kepercayaan diri yang sedang dibangun, dan karakter yang sedang
berusaha dibentuk,” ujar Ririn.
Ia menjelaskan, para
siswa kelas X tersebut baru menjalani masa pendidikan sekitar tiga hingga empat
pekan. Dalam waktu yang relatif singkat itu, mereka mulai belajar beradaptasi
dengan lingkungan baru sekaligus menghadapi berbagai tantangan.
“Di balik sebuah
pertunjukan yang hanya berlangsung beberapa menit di atas panggung, ada rasa
lelah yang tentu tidak bisa kita pungkiri. Ada kesalahan, ada perbedaan
pendapat, ada tawa, ada air mata,” katanya.
Menurut Ririn, ada
siswa yang sebelumnya tidak percaya diri dan belum memiliki pengalaman tampil
di hadapan khalayak ramai. Tetapi proses ProKajadi mendorong mereka untuk
keluar dari zona nyaman.
“Ada anak-anak yang
mungkin awalnya tidak percaya diri kemudian belajar untuk berani. Ada banyak
tangan yang bekerja sama agar satu karya dapat lahir dengan indah di panggung
ini,” tuturnya. Bagi Ririn, keberanian tampil di depan orang banyak merupakan bagian
kecil dari pelajaran kehidupan. Sebab, kehidupan juga mengajarkan manusia untuk
terus belajar, menghadapi kegagalan, bangkit ketika terjatuh, dan mencoba
kembali.
“Kita belajar, kita
jatuh, kita bangkit, kita berusaha untuk mencoba lagi. Dan akhirnya kita bisa
menemukan bahwa sesuatu yang besar tidak pernah lahir dari proses yang instan,”
ujarnya.
Ririn mengajak para
siswa dan seluruh orang tua yang hadir untuk tidak berhenti pada pemaknaan
kemerdekaan sebagai kebebasan. Menurutnya, generasi muda perlu memahami bahwa
kemerdekaan juga berkaitan dengan kemampuan mengendalikan diri.
“Merdeka bukan
berarti bebas melakukan apa saja. Merdeka berarti mampu memilih yang benar
meskipun yang salah bisa jadi lebih mudah,” tegasnya.
Pengawas Tingkat SMA
Provinsi Kalimantan Timur, Ambo Awe, menilai ProKajadi merupakan program yang
relevan dengan tantangan pendidikan saat ini. Menurutnya, pembentukan karakter
menjadi semakin penting karena perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar
terhadap kehidupan anak-anak.
“ProKajadi, program
pembentukan karakter dan jati diri, adalah program luar biasa. Kita lihat
sekarang karakter anak-anak kita mulai berkurang,” kata Ambo.
Ia menegaskan,
menjadi guru bukan hanya persoalan menyampaikan materi pelajaran. Tanggung
jawab yang lebih besar adalah bagaimana seorang guru mampu mendidik dan
membentuk karakter peserta didik.
“Guru itu bukan
sekadar mengajar, tetapi yang paling berat adalah mendidik,” ujarnya.
Karena itu, Ambo
mengingatkan para guru agar tidak pernah merasa lelah dalam proses mendidik.
“Jangan bosan-bosan
kita mendidik, terutama kita membentuk karakter anak-anak kita,” katanya.
Besarnya pengaruh
teknologi terhadap kehidupan anak-anak
penggunaan telepon seluler yang berlebihan berpotensi membuat interaksi
anak dengan keluarga maupun lingkungan sosial semakin berkurang.
Ambo menilai sikap
sopan, menghargai orang lain, dan memahami posisi guru sebagai orang tua di
sekolah merupakan bagian penting dari karakter yang perlu terus dibangun.
Melalui tema
“Indonesia Merdeka, Berau Berdaya, Alam Terjaga”, siswa tidak hanya diajak
berbicara tentang kemerdekaan bangsa, tetapi juga tentang masa depan Kabupaten
Berau. Ambo menilai tema tersebut sangat relevan dengan kondisi Berau yang
memiliki kekayaan sumber daya alam.
Menurutnya, generasi
muda harus memiliki kesadaran bahwa kekayaan alam yang ada saat ini bukan hanya
untuk dinikmati generasi sekarang. Ada tanggung jawab untuk menjaganya agar
tetap dapat diwariskan kepada anak cucu.
“Kalau tidak dijaga,
kita tidak dapat mewarisi sumber alam yang ada untuk anak-anak kita,” ujarnya.
Karena itu,
pendidikan generasi muda juga harus diarahkan agar mereka memiliki ilmu
pengetahuan dan teknologi yang dapat digunakan untuk menjaga sekaligus
memberdayakan lingkungan.
“Anak-anak kita harus
punya ilmu pengetahuan dan teknologi. Bagaimana kita bisa menjaga alam kita
tetap terjaga, tetap lestari demi masa depan anak-anak kita yang akan datang,”
katanya.
Ketua YPDSI Ash
Showah, Sigit Prasetyo Nugroho, mengatakan pagelaran seni tersebut diharapkan
tidak berhenti sebagai sebuah pertunjukan. Menurutnya, setiap karya yang
ditampilkan siswa seharusnya memiliki pesan dan nilai yang dapat direnungkan.
“Semoga pagelaran
seni ini bukan sekadar pertunjukan. Di balik setiap tarian, lagu, gerak, dan
kreativitas anak-anak kita, kita harapkan ada pesan tentang siapa kita dan
bagaimana kita ingin melihat masa depan negeri ini,” ujarnya.
Menurutnya,
keberhasilan pendidikan tidak hanya dapat diukur dari nilai akademik. Lebih
jauh, keberhasilan tersebut terlihat ketika seorang anak tumbuh menjadi pribadi
yang berilmu, berkarakter, mandiri, serta mampu memberikan manfaat bagi
masyarakat dan bangsa.
“Kemerdekaan akan
menjadi bermakna apabila anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang berilmu,
berkarakter, mandiri dan mampu memberikan manfaat bagi bangsa,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua
Komite SMAIT Ash Showah, Sri Endang Purniawati, menekankan pentingnya
keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan. Menurutnya, sekolah tidak dapat
bekerja sendiri dalam membentuk karakter anak. Dukungan dan pendampingan orang
tua di rumah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan yang
berlangsung di sekolah.
“Pola pendidikan yang
diterapkan sekolah membutuhkan kesinambungan dengan pola pendampingan di rumah.
Sebab, apa yang dibangun selama anak berada di sekolah akan lebih kuat apabila
mendapatkan dukungan yang sama dari keluarga,” ungkapnya.
Dalam menjalankan
proses pendidikan, SMAIT Ash Showah memiliki sejumlah program yang menjadi
bagian dari pembentukan karakter dan kompetensi siswa.
Di antaranya Program
Pembentukan Karakter dan Jati Diri (ProKajadi) untuk kelas X, Sekolah Kerja
Nyata (SKN) untuk kelas XI, dan International Education Program (IEP) bagi
kelas XII.
Selain itu terdapat
pula Bina Pribadi Islam (BPI) serta program Al-Qur’an yang mencakup tahfiz,
tahsin, dan mutqin. Menurut Sri Endang, rangkaian program tersebut dirancang
untuk menjawab kebutuhan anak-anak di tengah perubahan zaman.
“Kami berharap
melalui pendampingan ini anak-anak kita bisa lebih tangguh, lebih mandiri, dan
lebih beradab dalam menjalankan perannya di kehidupan sehari-hari,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh orang tua untuk menyatukan langkah dan persepsi dengan sekolah.
“Sehebat apa pun
program sekolah dalam memberikan pola didik kepada anak-anak kita, kalau tidak
ada dukungan optimal dari para orang tua tentu tidak akan signifikan,” ujarnya.
(sep/FN)